![]() |
| Sejumlah Tamu Hadiri Deklarasi Yakuza Manages Joker |
PORTAL PERKORO | JOMBANG — Aula Bung Tomo, Jombang, Sabtu (26/9/2026) malam, menjadi panggung deklarasi Yakuza Maneges wilayah Jombang-Mojokerto atau JOKER. Gus Thuba Topo Broto Maneges hadir langsung, sementara H. Maulana Syahiduzzaman, S.E., M.M., dipercaya sebagai Ketua Korda. Ada Remo, ada semangat, ada slogan “Gas Tanpa Ampun”. Tinggal satu yang belum bisa dideklarasikan malam itu: hasil kerja. Dan memang, hasil kerja tidak bisa dipasang di backdrop acara.
Nama “Yakuza” juga menarik perhatian. Di telinga publik, istilah itu identik dengan mafia Jepang. Tetapi Yakuza Maneges menjelaskannya sebagai Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi. Gus Thuba menegaskan organisasi tersebut bukan organisasi kriminal, melainkan wadah perubahan dan pengabdian. Penjelasan itu tentu penting. Tetapi reputasi organisasi tidak dibangun oleh kepanjangan nama. Ia dibangun oleh perilaku anggotanya. Kalau nama sudah dijelaskan baik-baik, jangan sampai kelakuannya nanti malah membuat wartawan harus menjelaskan lagi dari awal.
Tantangan berikutnya adalah jumlah versus kualitas. Ketika organisasi mulai berkembang, godaan terbesar biasanya angka: semakin banyak anggota, semakin terasa besar. Padahal seribu anggota yang disiplin, memahami aturan dan bertanggung jawab bisa lebih bermanfaat daripada puluhan ribu anggota yang hanya ramai ketika memakai seragam. Karena itu, Yakuza Maneges perlu menjadikan kaderisasi, pendidikan hukum, etika organisasi dan disiplin sebagai ukuran pertumbuhan. Besar secara angka bagus; besar secara kualitas jauh lebih penting.
Slogan “Gas Tanpa Ampun” juga perlu diterjemahkan secara cerdas. Mengawal laporan masyarakat tentu positif, tetapi keberanian harus berjalan bersama bukti, prosedur dan praduga tak bersalah. Jangan sampai “gas” terlalu dalam hingga remnya lupa dibawa. Jika ada dugaan pelanggaran, tugas organisasi sosial adalah membantu memastikan persoalan dikawal secara tertib dan transparan, sementara kewenangan penegakan hukum tetap berada pada institusi yang berwenang. Dengan pendekatan seperti itu, keberanian tidak berubah menjadi tekanan dan kritik tidak berubah menjadi penghakiman
.
Yang tak kalah penting adalah potensi konflik ketika organisasi membesar. Hari ini mungkin semua kompak karena tujuan masih sama. Besok, ketika korda bertambah, jabatan bertambah dan kepentingan mulai beragam, ujian sebenarnya dimulai. Karena itu, kode etik jangan hanya menjadi teks yang dibacakan saat deklarasi. Harus ada mekanisme penyelesaian konflik, pengawasan internal, regenerasi dan aturan yang berlaku sama bagi semua anggota. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat, tetapi organisasi yang mampu menyelesaikan perbedaan tanpa pecah.
Maka setelah deklarasi JOKER, publik sebenarnya tidak perlu buru-buru bertanya “berapa banyak anggota Yakuza Maneges?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “berapa banyak masalah masyarakat yang mampu dikawal secara profesional, berapa banyak anggota yang benar-benar berkualitas, dan seberapa konsisten organisasi menjaga aturan yang dibuatnya sendiri?” Jika Yakuza Maneges mampu menjawabnya melalui kerja nyata, nama yang awalnya terdengar kontroversial justru bisa berubah menjadi identitas yang memiliki makna sosial. Deklarasi adalah pintu masuk. Integritas, kualitas dan rekam jejaklah yang menentukan apakah pintu itu menuju kemajuan atau sekadar menuju ruangan yang makin ramai.(tim investigasi)

